Biasa saja, bahkan terkesan membosankan
Awalnya ku anggap kau bak gulma ditanaman
Pengganggu, parasit, perusak!
Hal itu berlangsung sekian lama
Begitu lama
Bahkan sangat lama
Entahlah!
Sekian lama waktu berputar
Sampai pada saatnya terbersit di hatiku
Bodohnya diriku!
Aku terlalu sombong, saat ku tak menghiraukannya
Aku mulai berpikir.
Sejenak ku renungkan
Dia yang dengan sabar menghadapi tajamnya ucapanku
Dia yang dengan tabah mengasahku
Kenapa aku begitu bodoh?
Menyia-nyiakan sebuah bunga yang sedang tumbuh
Dan akhirnya, aku coba merawat bunga itu
Memerhatikan bunga itu
Dengan sabar, aku dengarkan keluh kesahnya
Aku coba mengerti sifat bunga itu
Kini bunga itu mulai membesar
Baunya kian semerbak
Aku coba semakin perhatian pada bunga itu
Dengan setitik harapan, semoga bunga itu bisa menemani sunyinya hidupku
Hari demi hari, tak pernah lelah ku coba perhatikannya
Ku siram, ku beri pupuk, ku perhatikan
Di tengah jalan, rasa malas sering datang
Tapi, aku tidak akan berhenti
Ku lihat bunga itu semakin mekar
Harumnya kian bertebaran
Sampai pada akhirnya aku sadar
Bunga itulah yang akan menemaniku
Bunga itulah yang akan menghiasai hari-hariku
Bunga itulah yang akan menghapus air mataku
Kini, bunga yang kurawat benar-benar harum
Mahkotanya benar-benar indah
Tangkainya sangat kokoh
Hari-hariku terasa indah
Bahkan aku tak rela jika sehari ku tak memandangnya
Indahnya bungaku selalu ku rindukan
Aku tak ingin serangga hinggap di badannya, bahkan kupu-kupupun akan ku basmi
Akhirnya aku sadar, bungaku itu adalah kamu
kamu yang awalnya biasa saja
kamu yang awalnya ku anggap pengganggu
kamu yang awalnya perusak
tapi kini
aku sadar kamulah matahari bagi dunia
kamulah bintang di malam hari
kamulah segalanya bagiku
teriring janji, aku akan selalu memperlakukanmu bak bungaku
teriring sebuah harapan, semoga kamu selalu bisa mewarnai duniaku
Bungaku, percayalah!
Aku tak kan pernah lelah mencurahkan segala kasih sayangku untukmu.
Moh Mahrus Ali (XI-MIPA 7/18)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar