Point Belangs
Jawara game di Kampung Dolanan
adalah Dolin, Ia terkenal semenjak Ia menjuarai IOG (International Olympiad of Gamers), Ia menjadi duta game dari
kampungnya, banyak game yang telah Ia coba dan berhasil menaklukkan semua game
yang Ia coba, namun dari semua game yang telah Ia coba PB (Point Belangs) adalah game kesukaannya, game ini menceritakan
seorang pahlawan yang melawan banyak penjajah di sebuah desa.
Setiap hari Ia tidak pernah lupa
untuk sekedar mengisi waktu luang dengan bermain Point Belangs, tiap hari Ia pergi ke warnet langganannya yaitu
PancenDolin.net, yang memang sudah menjadi langganannya semenjak Ia masih SD,
sehingga Ia sering diberi potongan harga oleh sang pemilik warnet,
sampai-sampai sang pemilik warnet meminta untuk diajari ilmu game oleh Dolin,
dengan senang hati Dolin pun membagi ilmunya. Namun disamping semua hal
tersebut Ia memiki riwayat buruk dalam bidang akademik, Ia lebih mementingkan
game daripada akademik, misal besok ada ulangan Ia memilih untuk bermain game dengan
dalih untuk refreshing dan alhasil
hasil ulangan besok jauh dari KKM, namun Ia tidak pernah menyesali hal
tersebut.
Suatu hari Dolanan teman akrab Dolin
suatu hari memberi tahu bahwa akan ada lomba Point Belangs, tanpa pikir panjang Ia langsung mendaftarkan dirinya
untuk ikut dalam perlombaan game tersebut, berbagai tahap perlombaan telah
berhasil Ia lewati, hingga lolos ke tingkat internasional yaitu IOG (International Olympiad of Gamers), Ia
berlatih dengan keras, setelah pulang sekolah Ia selalu berlatih main game di
warnet langgannannya mulai dari pulang sekolah hingga warnetnya tutup, hal itu
Ia lakukan selama 7 hari berturut-turut, dan lagi-lagi Ia mengesampingkan aspek
akademiknya, dalam masa 7 hari tersebut Ia mengalami penurunan dalam bidang akademiknya,
sehingga Ia sering dimarahi di kelasnya, karena alasannya bermain game maka
kemaranhan gurunya juga semakin menjadi.
Suatu hari Ia masuk ke suatu
perkampungan yang penuh dengan penjajah, Ia datang dengan bersenjata lengkap,
tanpa pikir panjang Ia langsung bertindak layaknya pahlawan kesiangan, “Jangan
ada yang menyakiti penduduk desa ini, hadapi saya dulu” kata Dolin,
“Seraaaaaaaaaang” teriak komandan penjajah dengan lantangnya, Dolin langsung
mencari tempat persembunyian untuk mempersiapkan segala hal yang Ia perlukan,
karena Ia sadar bahwa Ia melakukan aksinya sendirian maka Ia mencari cara aman,
Ia yang seorang diri dengan gagahnya melawan pasukanpenjajah yang jumlahnya 532
orang, demi untuk menyelamatkan penduduk desa yang berjumlah 1001 orang dalam
keadaan takut dan tertekan karena penjajah.
Setelah semuanya siap Ia dengan
langkah yang pelan namun pasti mampu menembak mati satu persatu anggota
penjajah, saat jumlah penjajah sudah ± 17 orang termasuk komandannya, tiba-tiba misilnya habis, mulailah Ia
mencari tempat persembunyian lagi, perasaan gugup, panas dingin, keringat
bercucuran, karena Ia tahu bahwa Ia sekarang ada pada posisi yang sudah
terdesak, Ia mencari berbagai bahan alternatif yang dapat digunakan untuk
menyerang pasukan penjajah, nampaklah bambu sepanjang 2 meter yang cocok untuk
meyerang musuh, “Bambu, ya itu satu-satunya jalan untuk melawan musuh” kata
Dolin, dengan doa yang cukup setelah Ia mengumpulkan segenap keberaniannya, Ia
pun menyerang pasukan penjajah dengan sebatang bambu yang Ia miliki, namun keberhasilannya
yang sudah didepan mata seakan hancur seketika saat seorang prajurit lawan
menembakkan pistol dan peluru tepat mengenai kepalanya, seketika mati ditempat
dengan darah mengucur dengan deras.
Sesaat kemudian, Ia terbangun dari
mimpinya karena ternyata ibunya membangunkannya dengan pukulan yang keras,
sebab semalam suntuk Ia bermain Point
Belangs, Ia bangun dengan kagetnya karena merasakan dengan nyata dalam
mimpinya betapa sakitnya menjadi tokoh pahlawan dalam Point Belangs.
Dikarenakan mimpinya yang begitu mirip dengan Ponit Belangs game kesukaanya, maka
mulai saat itu Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi memainkan Point Belangs dan Ia berjanji untuk
menaikkan nilainya dan akan berprestasi dalam kegiatan sekolahnya agar tidak
mengecewakan orang tuanya.
Habib Fathurohim
XI-MIA7/13
Habib Fathurohim
XI-MIA7/13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar