Namaku
Raya. Aku bersekolah di SMP Harapan Nusa. Saat ini aku duduk di bangku kelas 9.
1 setengah tahun terakhir ini hidupku berwarna karena ada dia. Teman sekaligus
sahabat sekaligus kakak bagiku. Sebelum UN aku sudah daftar ke salah satu SMA
favorit di Indonesia dan jujur itu adalah keinginan orang tuaku namun karena
aku tidak ingin mengecewakan orang tuaku maka aku mendaftar ke sekolah
tersebut.
Waktu
telah berlalu aku pun diterima di sekolah itu, itu berarti aku harus
meninggalakan kota masa kecilku dan meninggalkan orang yang mewarnai hidupku 1
setengah tahun terakhir ini, Sedih? Pasti, namun semua ini sudah kuputuska
untuk menggapai cita cita.
Hari
ini hari pertama sekolah, hari ini pun aku mengikuti MOS. Siang ini ada
kejadian yang tak kuduga. Aku pingsan saat menjalani MOS hari ini, karena
mungkin cuaca yang berbeda dengan kota asalku dan beban mental yang kubawa. Tak
terkira ada teman ku yang menolongku, namanya Nathan.
Sejak
saat itu aku mulai berteman dengan Nathan. Sudah 3 bulan aku bersekolah di
sekolah ini dan aku belum sempat untuk kembali ke kota asalku untuk sekedar
menjenguk orang tuaku ataupun orang yang dulunya mewarnai kehidupanku. Aku
sering bercerita pada Nathan tentang orang a=yang mewarnai hariku ketika SMP
dulu dan Nathan selalu tersenyum tulus saat aku menceritakan tentang dia.
Beberapa bulan pun berlalu aku dan Nathan bertambah akrab.
"Ray,
aku antar pulang mau?" tanya Nathan padaku
"Kayaknya
aku gak langsung pulang deh Nath, aku perlu ke toko buku dulu" ucapku
"Yasudah
aku ikut ya? Sudah mau malam, gak baik anank perempuan pergi sendirian"
Nathan berucap
"Hahaa,
udah biasa kok Nath ayo deh kalo gitu"
Aku
pun ke toko buku dengan Nathan, setelah itu kami makan di salah satu tempat
makan favoritku baru baru ini. Aku pun berniat menghubungi orang spesial di
kota lamaku itu namun terkejutnya aku saat aku melihat layar handphoneku.
Temanku memasang foto berdua dengan orang spesialku itu. Sakit hatiku saat aku
melihatnya, tak kuasa aku pun menangis. Nathan pun bertanya ada apa denganku
dan Ia selalu membuatku merasa nyaman.
Bulan
demi bulan telah terlewati. Orang spesial itu dan temanku makin akrab, aku pun
tak kuat lagi melihatnya. Akhirnya aku pun memutuskan untuk menjauhinya namun
orang spesialku itupun langsung marah dan tidak terima. Ia malah menuduh aku
lebih memilih Nathan daripada Ia. Sejak saat itu kisah kami berakhir, 2 tahun
yang indah dan berakhir dengan sia - sia.
Aku
pun menceritakan hal itu pada Nathan, Ia pun merasa bersalah atas apa yang
kulakukan.
"Ray,
aku minta maaf kalau aku mengganggu hubunganmu dengan dia"
"Enggak
kok Nath, mungkin memang bukan jalannya"
"Ke
taman yuk Ray, aku punya kejutan untuk kamu"
"Oiya?
Apa itu Nath?"
"Sini
tutup dulu matanya, ikuti saja langkah kakimu berjalan"
"Tapi
Nath, kok kamu pucet gitu sih?"
"Gak
apa apa kok Ray, tutup mata ya"
Aku
pun menutup mataku dan aku berjalan ke taman itu dengan dituntun oleh Nathan.
Setelah sampai aku pun penasaran dengan apa yang ada di depanku. Saat kubuka
mataku didepanku terdapat lilin berbentuk hati dan balon balon berbentuk hati
terikat di sekitar tempat itu.
"Ini
maksudnya apa Nath?" aku heran dan bertanya
"Saya
sayang anda Raya Anindita, namun saya tidak berharap lebih kepada anda. Saya
hanya berharap anda mau menemani saya di jam jam terakhir saya" Nathan
tersenyum dengan sangat manis, senyuman yang manis, tulus namun rapuh. Mataku
berkaca kaca melihatnya, namun aku heran maksud kata katanya.
"Maksud
kamu apa deh Nath bicara seperti itu? Kita akan terus bersahabat sampai tua
nanti" aku mencoba untuk tersenyum.
"Besok
kamu ke rumahku ya, aku mau menunjukkan kamu sesuatu namun kamu harus janji
padaku kalau kamu tidak boleh sedih" Nathan maih tersenyum indah. Aku yang
bingung hanya mengangguk saja. Nathan pun memelukku dengan saat erat.
Keesokan
harinya aku datang ke rumah Nathan siang hari, namun pada saat aku sampai di
rumahnya Ia tidak ada dirumah. Kata orang rumahnya Nathan ada di rumah sakit.
Secepatnya aku menuju ke rumah akit itu. Aku pun bertanya pada perawat dimana
Nathan berada. Setelah ditunjukkan arahnya aku pun menuju kesana.
Ternyata
di tempat itu sudah ada orang tua Nathan yang menangis tersedu sedu, aku pun
masih belum tau apa yang terjadi
"Nathan
mengidap penyakit leukimia dari Ia kecil. Saat itu Ia tidak mengikuti kegiatan
lapangan pada saat MOS hari pertama karena penyakitnya ini makanya Ia menolong
kamu yang pingsang. Hari itu Nathan bercerita kepada tante bahwa Ia menemui
pereempuan yang cantik bak bidadari dan ceria seperti dewi dewi yang sedang
bermain di khayangan. Dan mulai hari itu Ia jatuh cinta padamu Raya, Ia selalu
ada di saat kondisimu sedih ataupun senang, namun Ia tak pernah berani
menyatakan perasaannya. Ini ada surat dari Nathan untuk kamu Raya" Ibu
Nathan pun menyerahkan suratnya kepadaku. Aku terus menangis tersedu sedu
"Teruntuk
Raya Anindita. Halo cantik, kalau kamu membaca surat ini berarti saya sudah
berada jauh di alam sana. Maaf saya tidak pernah memberitahumu tentang penyakit
saya ini, saya tidak hanya ingin kamu bersedih. Saya jatuh cinta padamu sejak
hari pertama kita bertemu. Saya tidak suka kalau melihat kamu menangis atau
sedih karena orang spesialmu itu, saya juga bisa menjadi orang spesial
dihatimu. Saya bisa menjaga anda dan membahagiakan anda, namun apa daya
penyakit ini menghalangi saya. Saya hanya bisa menjadi obat pelipur lara
hatimu. Saya berharap setelah ini akan ada seseorang yang menjaga anda setulus
saya menjaga anda, dan kamu harus berjanji kepada saya bahwa kamu tidak boleh
bersedih lagi terhadap apapun. Raya Anindita yang saya kenal adalah seorang
perempuan cantik yang ceria, maka kamu harus membagi keceriaan itu kepada orang
di sekitarmu, Kamu adalah permata dihati saya Raya, sejak pertama kali kita
bertemu. Saya sayang anda Raya. Salam sayang, Nathan"
Aku
tak bisa menahan tangisan ini lagi. ore harinya aku datang ke pemakaman Nathan.
Saat itu aku sadar bahwa ternyata ada orang yang sayang kita dengan tulus namun
kita sering tidak sadar keberadaannya.
-Belvada Kania Maysitha (07)-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar