Selasa, 02 Agustus 2016

PERBEDAAN KITA

Rembulan di kala senja
Yang tak dapat menemani mentari di waktu terang
Langit yang luas
Dengan jarak yang terbentang membatasinya dengan bumi
Akankah mereka bersama ?


Biarkan saja badai menderu
Menerpa semua asa dan rasa yang ada
Api yang membakar 
Menghanguskan semua ingatan dan anganku akanmu
Dan air yang menghanyutkan 
Menenggelamkan semua harapan yang pernah kuterbangkan


Lupakan saja semuanya
Semua untaian cerita yang pernah terajut 
Dan semua ingatan yang selalu terlintas
Akhirnya semua itu akan sia-sia
Kalau yang berbeda adalah iman kita 






-Nathania Shinta Belinda Sigit

Komposisi Warna (Prolog)


Prologue


Jogja Expo Center masih terihat ramai pengunjung. Mayoritas pengunjungnya ialah siswa SMSR Jogja dan beberapa mahasiswa dari Institut Seni Indonesia Jogjakarta dan yang lainnya pengunjung biasa. Di penghujung acara, setelah para juri merundingkan siapa pemenang lomba dan tiba saatnya untuk mengumumkannya.

“Selamat sore hadirin yang kami hormati.”, sapa seorang pembawa acara dengan pakaian formalnya.

“Hadirin sekalian, tiba saatnya untuk pengumuman pemenang ‘JavaArt Paintings Exhibition & Competition’ tahun ini, dan pemenangnya adalah…”

“Anggi H. Prakasa!” kata pembawa acara dengan semangat, dan disambut dengan tepuk tangan meriah oleh para pengunjung.

Anggi Herlin yang sedang melihat lihat pameran tersentak kaget karena mendengar namanya disebut. Sementara itu, Anggi Hartono sedang berdiskusi dengan salah seorang kolektor lukisan masyur di Indonesia. Dengan sungkan, Ia berpamitan pergi karena mendengar namanya dipanggil.

Lha mabuk nih orang, ikut lombanya saja tidak, apalagi menang.” kata Anggi dengan rasa heran.

“Dimohon, kepada saudara Anggi H. Prakasa segera menempatkan diri di atas panggung untuk menerima penghargaan atas pencapaiannya yang luar biasa dan sangat disukai oleh hampir seluruh juri.”, kata pembawa acara itu lagi.

“Yaudah gih sana ke panggung dulu saja, mungkin namanya salah.”, ujar Xyavenna. Anggi setuju dengan Xyavenna, dan beranjak dari tempatnya menuju ke panggung.

Ketika ia menaiki tangga panggung, ia langsung menjadi pusat perhatian dan disambut dengan tepuk tangan meriah oleh seluruh pengunjung.

Pada saat yang bersamaan, Anggi Hartono juga berlari menuju arah panggung. Ia heran melihat perempuan ‘bermulut pedas’ yang tadi mengomentari lukisannya. Ia pun segera menaiki panggung.
Sambil membawa piala penghargaan, pembawa acara berjalan menuju Anggi Herlin untuk menyerahkannya. 

Tepat sebelum piala penghargaan sampai di tangan Anggi Herlin,

lha Pak?!” kata kedua Anggi secara bersamaan.

“…”

-o-


Paulina (22)
Agatha Advenia (02)

Puisi Untuk Matahari

Puisi Untuk Matahari


Mereka tak sempurna
Sama juga halnya denganmu
Jangan risaukan cibiran mereka
Mungkin mereka bulan
Tapi ingat kamu itu matahari
Cahaya mereka hanylah darimu

Entah menari atau bernyanyi,
Lakukan saja apa yang kau suka
Ini hidupmu bukan hidupnya

Entah berbicara atau bersorak,
Lakukan saja apa yang kau suka
Ini hidupmu bukan hidupnya

Buktikan sekarang, angkat penamu dan tulis!
Bila gemar menulis

Buktikan sekarang, perkeras suaramu!
Bila gemar menyanyi

Ingat kau adalah MATAHARI

karya : M. Fachru Rijal A. (17)

TOLONG

Aku tersesat
dalam duka yang menyayat
Membuat hati ini terluka
terbenam dalam lautan lara 
 
tak bisa aku meghindar 
dari gejolak rasa yang membara
bayang-bayangmu selalu mewarnai setiap langkah ku

Aku
yang enggan melupakan masa lalu
yang emggan hilangkan rasa rinduku
yang enggan singkirkan perasan cinta ku
yang tak sanggup jauh dari kenangan itu  


Aku butuh dia
Dia yang selalu ada didekapku
Dalam semua suasana hati ini
Namun apadaya
Dia tinggalah angan angan
angan angan yang tak kan kudapatkan
 
Tolong!
Ingin rasanya aku berteriak
agar  semuanya tau
akan semua rasa perih yang ada
Bantu aku melupakannya
Melupakan semua kenangan bersamanya
Memulangkan keceriaanku yang telah lama sirna

 Kumohon
Tolong aku.. 


                                                                                                                       Shalmain Lintang A.
 

Senin, 01 Agustus 2016

Perjuanganku Demi Bungaku

Awalnya ku lihat kau seperti angin menerpa daun
Biasa saja, bahkan terkesan membosankan
Awalnya ku anggap kau bak gulma ditanaman
Pengganggu, parasit, perusak!

Hal itu berlangsung sekian lama
Begitu lama
Bahkan sangat lama
Entahlah!

Sekian lama waktu berputar
Sampai pada saatnya terbersit di hatiku
Bodohnya diriku!
Aku terlalu sombong, saat ku tak menghiraukannya

Aku mulai berpikir.
Sejenak ku renungkan
Dia yang dengan sabar menghadapi tajamnya ucapanku
Dia yang dengan tabah mengasahku

Kenapa aku begitu bodoh?
Menyia-nyiakan sebuah bunga yang sedang tumbuh
Dan akhirnya, aku coba merawat bunga itu
Memerhatikan bunga itu

Dengan sabar, aku dengarkan keluh kesahnya
Aku coba mengerti sifat bunga itu
Kini bunga itu mulai membesar
Baunya kian semerbak

Aku coba semakin perhatian pada bunga itu
Dengan setitik harapan, semoga bunga itu bisa menemani sunyinya hidupku
Hari demi hari, tak pernah lelah ku coba perhatikannya
Ku siram, ku beri pupuk, ku perhatikan

Di tengah jalan, rasa malas sering datang
Tapi, aku tidak akan berhenti
Ku lihat bunga itu semakin mekar
Harumnya kian  bertebaran



Sampai pada akhirnya aku sadar
Bunga itulah yang akan menemaniku
Bunga itulah yang akan menghiasai hari-hariku
Bunga itulah yang akan menghapus air mataku

Kini, bunga yang kurawat benar-benar harum
Mahkotanya benar-benar indah
Tangkainya sangat kokoh

Hari-hariku terasa indah
Bahkan aku tak rela jika sehari ku tak memandangnya
Indahnya bungaku selalu ku rindukan
Aku tak ingin serangga hinggap di badannya, bahkan kupu-kupupun akan ku basmi

Akhirnya aku sadar, bungaku itu adalah kamu
kamu yang awalnya biasa saja
kamu yang awalnya ku anggap pengganggu
kamu yang awalnya perusak

tapi kini
aku sadar kamulah matahari bagi dunia
kamulah bintang di malam hari
kamulah segalanya bagiku

teriring janji, aku akan selalu memperlakukanmu bak bungaku
teriring sebuah harapan, semoga kamu selalu bisa mewarnai duniaku
Bungaku, percayalah!
Aku tak kan pernah lelah mencurahkan segala kasih sayangku untukmu. 



Moh Mahrus Ali (XI-MIPA 7/18)




Istimewa / Selalu ada ?

Namaku Raya. Aku bersekolah di SMP Harapan Nusa. Saat ini aku duduk di bangku kelas 9. 1 setengah tahun terakhir ini hidupku berwarna karena ada dia. Teman sekaligus sahabat sekaligus kakak bagiku. Sebelum UN aku sudah daftar ke salah satu SMA favorit di Indonesia dan jujur itu adalah keinginan orang tuaku namun karena aku tidak ingin mengecewakan orang tuaku maka aku mendaftar ke sekolah tersebut.

Waktu telah berlalu aku pun diterima di sekolah itu, itu berarti aku harus meninggalakan kota masa kecilku dan meninggalkan orang yang mewarnai hidupku 1 setengah tahun terakhir ini, Sedih? Pasti, namun semua ini sudah kuputuska untuk menggapai cita cita.

Hari ini hari pertama sekolah, hari ini pun aku mengikuti MOS. Siang ini ada kejadian yang tak kuduga. Aku pingsan saat menjalani MOS hari ini, karena mungkin cuaca yang berbeda dengan kota asalku dan beban mental yang kubawa. Tak terkira ada teman ku yang menolongku, namanya Nathan.

Sejak saat itu aku mulai berteman dengan Nathan. Sudah 3 bulan aku bersekolah di sekolah ini dan aku belum sempat untuk kembali ke kota asalku untuk sekedar menjenguk orang tuaku ataupun orang yang dulunya mewarnai kehidupanku. Aku sering bercerita pada Nathan tentang orang a=yang mewarnai hariku ketika SMP dulu dan Nathan selalu tersenyum tulus saat aku menceritakan tentang dia. Beberapa bulan pun berlalu aku dan Nathan bertambah akrab.

"Ray, aku antar pulang mau?" tanya Nathan padaku
"Kayaknya aku gak langsung pulang deh Nath, aku perlu ke toko buku dulu" ucapku
"Yasudah aku ikut ya? Sudah mau malam, gak baik anank perempuan pergi sendirian" Nathan berucap
"Hahaa, udah biasa kok Nath ayo deh kalo gitu"

Aku pun ke toko buku dengan Nathan, setelah itu kami makan di salah satu tempat makan favoritku baru baru ini. Aku pun berniat menghubungi orang spesial di kota lamaku itu namun terkejutnya aku saat aku melihat layar handphoneku. Temanku memasang foto berdua dengan orang spesialku itu. Sakit hatiku saat aku melihatnya, tak kuasa aku pun menangis. Nathan pun bertanya ada apa denganku dan Ia selalu membuatku merasa nyaman.

Bulan demi bulan telah terlewati. Orang spesial itu dan temanku makin akrab, aku pun tak kuat lagi melihatnya. Akhirnya aku pun memutuskan untuk menjauhinya namun orang spesialku itupun langsung marah dan tidak terima. Ia malah menuduh aku lebih memilih Nathan daripada Ia. Sejak saat itu kisah kami berakhir, 2 tahun yang indah dan berakhir dengan sia - sia.
Aku pun menceritakan hal itu pada Nathan, Ia pun merasa bersalah atas apa yang kulakukan.

"Ray, aku minta maaf kalau aku mengganggu hubunganmu dengan dia"
"Enggak kok Nath, mungkin memang bukan jalannya"
"Ke taman yuk Ray, aku punya kejutan untuk kamu"
"Oiya? Apa itu Nath?"
"Sini tutup dulu matanya, ikuti saja langkah kakimu berjalan"
"Tapi Nath, kok kamu pucet gitu sih?"
"Gak apa apa kok Ray, tutup mata ya"

Aku pun menutup mataku dan aku berjalan ke taman itu dengan dituntun oleh Nathan. Setelah sampai aku pun penasaran dengan apa yang ada di depanku. Saat kubuka mataku didepanku terdapat lilin berbentuk hati dan balon balon berbentuk hati terikat di sekitar tempat itu.

"Ini maksudnya apa Nath?" aku heran dan bertanya
"Saya sayang anda Raya Anindita, namun saya tidak berharap lebih kepada anda. Saya hanya berharap anda mau menemani saya di jam jam terakhir saya" Nathan tersenyum dengan sangat manis, senyuman yang manis, tulus namun rapuh. Mataku berkaca kaca melihatnya, namun aku heran maksud kata katanya.
"Maksud kamu apa deh Nath bicara seperti itu? Kita akan terus bersahabat sampai tua nanti" aku mencoba untuk tersenyum.
"Besok kamu ke rumahku ya, aku mau menunjukkan kamu sesuatu namun kamu harus janji padaku kalau kamu tidak boleh sedih" Nathan maih tersenyum indah. Aku yang bingung hanya mengangguk saja. Nathan pun memelukku dengan saat erat.

Keesokan harinya aku datang ke rumah Nathan siang hari, namun pada saat aku sampai di rumahnya Ia tidak ada dirumah. Kata orang rumahnya Nathan ada di rumah sakit. Secepatnya aku menuju ke rumah akit itu. Aku pun bertanya pada perawat dimana Nathan berada. Setelah ditunjukkan arahnya aku pun menuju kesana.
Ternyata di tempat itu sudah ada orang tua Nathan yang menangis tersedu sedu, aku pun masih belum tau apa yang terjadi

"Nathan mengidap penyakit leukimia dari Ia kecil. Saat itu Ia tidak mengikuti kegiatan lapangan pada saat MOS hari pertama karena penyakitnya ini makanya Ia menolong kamu yang pingsang. Hari itu Nathan bercerita kepada tante bahwa Ia menemui pereempuan yang cantik bak bidadari dan ceria seperti dewi dewi yang sedang bermain di khayangan. Dan mulai hari itu Ia jatuh cinta padamu Raya, Ia selalu ada di saat kondisimu sedih ataupun senang, namun Ia tak pernah berani menyatakan perasaannya. Ini ada surat dari Nathan untuk kamu Raya" Ibu Nathan pun menyerahkan suratnya kepadaku. Aku terus menangis tersedu sedu

"Teruntuk Raya Anindita. Halo cantik, kalau kamu membaca surat ini berarti saya sudah berada jauh di alam sana. Maaf saya tidak pernah memberitahumu tentang penyakit saya ini, saya tidak hanya ingin kamu bersedih. Saya jatuh cinta padamu sejak hari pertama kita bertemu. Saya tidak suka kalau melihat kamu menangis atau sedih karena orang spesialmu itu, saya juga bisa menjadi orang spesial dihatimu. Saya bisa menjaga anda dan membahagiakan anda, namun apa daya penyakit ini menghalangi saya. Saya hanya bisa menjadi obat pelipur lara hatimu. Saya berharap setelah ini akan ada seseorang yang menjaga anda setulus saya menjaga anda, dan kamu harus berjanji kepada saya bahwa kamu tidak boleh bersedih lagi terhadap apapun. Raya Anindita yang saya kenal adalah seorang perempuan cantik yang ceria, maka kamu harus membagi keceriaan itu kepada orang di sekitarmu, Kamu adalah permata dihati saya Raya, sejak pertama kali kita bertemu. Saya sayang anda Raya. Salam sayang, Nathan"

Aku tak bisa menahan tangisan ini lagi. ore harinya aku datang ke pemakaman Nathan. Saat itu aku sadar bahwa ternyata ada orang yang sayang kita dengan tulus namun kita sering tidak sadar keberadaannya.

-Belvada Kania Maysitha (07)-


Sang Gadis Impian

EPISODE 1

Hari itu adalah hari yang membuatnya menjadi sangat berbeda. Rani, gadis lugu yang baru saja lulus SMP itu, memutuskan untuk mengikuti kemauan orang tuanya untuk bersekolah di salah satu sekolah favorit dikotanya. Ya, tentu saja disekolah itu sebagian besar muridnya dalam keadaan ekonomi yang menengah keatas. Berbeda dengan dirinya, yang hanya seorang anak dari bapak yang bekerja serabutan, dan seorang ibu yang hanya sebagai pembuat jajanan pasar. Namun berkat usaha dan tekunnya Rani, ia mendapatkan beasiswa untuk masuk ke SMA tersebut.

"Bu, Rani kemarin dipanggil ke Ruang Kasek. Rani ditawarin buat sekolah di SMA Cinta Bangsa bu.. katanya mau dikasih beasiswa" ucap Rani.
"Ibu sangat mendukung kamu kalau memang kamu mau masuk sana. Kamu kan tau kondisi perekonomian kita saat ini. Ibu akan sangat merasa terbantu jika kamu bersekolah dengan beasiswa nak.." balas Ibu.
"Baiklah bu.. kalau memang ibu ingin aku masuk sana, aku akan menuruti perkataan ibu." jawab Rani dengan wajah lesu.
Rani sebenarnya tidak ingin masuk SMA Cinta Bangsa. Dia lebih ingin masuk SMA Suka Budaya karena dia merasa memiliki kemampuan lebih dibidang seni dan ingin menjadi seniman. Namun dengan berat hati akhirnya ia mau masuk SMA Cinta Bangsa demi membantu kedua orangtuanya agar tidak perlu merepotkan beban mereka dengan cara mengambil beasiswa. Dengan demikian orang tuanya tak perlu membayar SPP sekolah yang cukup besar.


Hari pertama pun tiba. Seperti biasa 3 hari pertama diawali dengan MOS(Masa Orientasi Sekolah). Pada hari pertama pun Rani sudah dipandang remeh teman-teman kelasnya. Ia masuk dengan baju smp yang sudah lusuh dan kusam serta sepatu yang sudah tidak layak pakai. Dikelas tidak ada yang mau berteman dengannya. Dia menjadi seorang anak yang tertutup. Sudah sekitar tiga bulan ia hanya bermain sendiri, sampai pada akhirnya ada seseorang yang datang..



-Shalmain Lintang Aratri-

Blogger news

SELAMAT DATANG DI KELAS XI MIPA 7 SMA TARUNA NUSANTARA

Disqus Shortname

Comments system